Powered By Blogger

Rabu, 15 Januari 2014

Pengaruh Media Sosial Terhadap Dunia Pendidikan


Seberapa besarkah pengaruh media sosial???



 Sebelum membahas mengenai pengaruh media sosial terhadap pendidikan, sebaiknya terlebih dahulu membahas mengenai pengertian media sosial itu sendiri.

Media sosial merupakan sebuah media online, sehingga para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, dan lainnya. Blog dan jejaring sosial merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Jejaring sosial mengalami perkembangan sangat pesat saat ini. Jejaring sosial merupakan sebuah situs yang memungkinkan kita untuk berhubungan dengan teman atau saudara untuk berbagi foto, video atau informasi lainnya tergantung dari sifat media sosial tersebut, bisa harus menjadi teman dahulu atau yang sifatnya open ( bisa dibuka siapa saja ). 

Perkembangan dari media sosial ini sungguh sangat pesat, ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah anggota yang di miliki masing - masing situs jejaring sosial ini, berikut tabel jumlah anggota dari masing - masing situs yang di kutip dari (August E. Grant:297) pada 1 mei 2010 :

No
Nama situs
Jumlah member
1
Facebook
250.000.000
2
Myspace
122.000.000
3
Twitter
80.500.000
4
Linkedin
50.000.000

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan “Media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content".

Dalam sebuah pendidikan, media sosial sangat berperan penting, sehingga menimbulkan dampak positif dan negatif pada sebuah pendidikan. Dampak positifnya, media sosial sangat membantu dalam dunia pendidikan, dimana semua ilmu pendidikan dapat dengan mudah di cari dan di tela'ah melalui media sosial, tidak hanya berpedoman pada sebuah buku pelajaran, tetapi dengan adanya media sosial, pelajar dapat mencari sebuah hal-hal baru dalam dunia pendidikan yang akan selalu terjawab dalam media sosial. Selain itu, dengan didukung perkembangan TIK yang semakin canggih, banyak sekali hal yang dapat dilakukan. Misalnya, mengadakan kelas virtual merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan social media ke arah yang positif. Menerapkan e-learning dan mempermudah sistem administrasi, kedua hal ini juga dapat dilakukan. Namun sayang, hal ini masih menjadi wacana untuk dasar pendidikan sekolah di Indonesia. Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, banyak yang mulai berani menerapkan teknologi sebagai roda pengggerak dari sistem kampus itu sendiri.

Sedangkan dampak negatif yang timbul di karenakan salahnya penggunaan media sosial. Misalnya, banyak sekali pelajar yang menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mengekspos diri sendiri, bukan untuk mencari ilmu pendidikan, sehingga pelajar tersebut terjebak dalam media sosial, dan dapat merusak pola pikir mereka.

Dalam perkembangannya saat ini, mengakses internet dan membuka situs jejaring sosial dapat dilakukan melalui telepon seluler. Hal ini cukup membuat dampak dari jejaring sosial sangat dirasakan dikalangan pelajar. Masalahnya adalah banyak pelajar yang mengakses situs jejaring sosial tersebut dari telepon seluler mereka pada saat proses pembelajaran berlangsung. Akibatnya para pelajar tidak serius mengikuti pelajaran yang berlangsung, sehingga konsentrasi mereka hanya terpusat pada jejaring sosial yang mereka akses melalui telepon genggam. Melihat keadaan ini, lambat laun motivasi belajar mereka juga akan mengalami penurunan. Motivasi belajar sangat erat kaitannya dengan prestasi seorang pelajar. Jika motivasi atau keinginan pelajar untuk belajar rendah, maka yang terjadi adalah prestasi mereka juga akan mengalami penurunan. Hal inilah yang sangat menghawatirkan dalam dunia pendidikan.

Dari paparan dampak situs jejaring sosial di atas, adapun langkah strategis yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, yaitu:

1.        Memberikan Pemahaman kepada Pelajar Tentang Bahaya Situs Jejaring Sosial.
Langkah ini perlu dilakukan agar para pelajar tahu bahaya dari penggunaan situs jejaring sosial, dan dapat menggunakannya secara lebih bijak. Selain itu langkah ini juga dapat menimbulkan rasa waspada kepada pelajar sehingga dalam menggunakan situs jejaring sosial mereka lebih berhati-hati.

2.        Usahakan Untuk Tidak Memberikan Telepon Seluler yang Dapat Mengakses Internet (situs jejaring sosial).
Kecanggihan alat komunikasi sekarang ini telah memungkinkan telepon seluler untuk mengakses internet. Bahkan beberapa merek telepon seluler ternama berlomba-lomba mengeluarkan produk yang memiliki kecanggihan dan kemampuan akses internet, yang memungkinkan penggunanya mengakses situs jejaring sosial dengan sangat mudah. Hal ini dapat menyebabkan siswa kecanduan mengakses situs jejaring sosial dengan telepon seluler mereka.

3.        Mengawasi Pelajar dalam Berinternet atau Berjejaring Sosial.
Pengawasan terhadap pergaulan siswa dalam jejaring sosial dunia maya sangat diperlukan, karena jika siswa tidak diawasi mereka akan dengan mudah mengakses situs jejaring sosial tersebut dan menggunakannya kearah yang tidak baik. Pergaulan mereka yang salah dapat membuat mereka melawan perkataan orang tua, dan usaha kita untuk menyelamatkan anak untuk tidak menggunakan akses internet secara berlebihan akan sia-sia dan tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Pergaulan anak yang bebas dan pengaruh dari teman-teman juga dapat memudahkan anak untuk mengakses situs jejaring sosial dengan mudah.





DAFTAR PUSTAKA

Grant, August E & Meadows, Jennifer H. 2010. “Communication Technology Update and Fundamental”.  Boston: Focal Press.
http://madces.blogspot.com/pengaruh-media-social-network-terhadap-pendidikan.html (diakses pada 15 januari 2014).




Selasa, 03 Desember 2013

Sekolah Kita


Sekolah, Kunci keberhasilan bangsa…

Dalam dunia pendidikan, sekolah merupakan tempat bagi anak didik untuk belajar dan mempelajari banyak hal. Sekolah mengantarkan anak didik untuk tumbuh menjadi manusia-manusia dengan segala bentuk harapan dan impian.

Selain itu sekolah adalah salah satu faktor penting dalam membangun bangsa yang berkualitas. Maksudnya adalah tingkat keberhasilan sebuah bangsa dapat diukur dari bagaimana sekolah berperan membangun kemandirian dan kecerdasan anak didik.

Sekolah menjadi media untuk membentuk nalar berpikir peserta didik yang kuat dan proses pembentukan karakter. Selain itu, diharapkan peserta didik mampu menemukan bakat dan minat yang dimilikinya untuk diasah sehingga bisa mensukseskan kehidupannya dimasa mendatang. Jadi sekolah bukan sekedar formalitas saja. Illich berpendapat bahwa “Sekolah melaksanakan penyelenggaraan pendidikan yang tidak berpatokan ukuran formalitas, sebab sekolah sejatinya bertujuan mengajarkan anak-anak didik memaknai kehidupan sesuai dengan pemahaman dan penafsiran masing-masing”. Bagi Illich, hal yang ditolaknya adalah ketika anak-anak didik diajari bahwa belajar yang bernilai adalah hasil kehadiran dalam kelas, nilai meningkat. Dan dicatat lewar gelar dan ijazah.

Sering kita menjumpai beberapa peserta didik yang malas untuk bersekolah. Hal itu karena mereka menganggap bahwa sekolah seperti penjara yang selalu banyak aturan yang bersifat mengekang. Padahal apabila kita renungkan, aturan yang dibuat sedemikian rupa di sekolah itu tujuannya untuk menjadikan peserta didik menjadi lebih baik, misalnya mengajarkan suatu kedisiplinan dan tanggung jawab. Seperti halnya Freire yang berpendapat bahwa “Sekolah harus menanamkan nilai-nilai progresif terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan”. Jadi persepsi peserta didik harus dirubah bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan dan merupakan salah satu tempat yang bisa memberikan segudang ilmu. Dengan begitu mereka bisa merasa nyaman dan senang saat belajar.

Sekarang kita melirik ke fasilitas sekolah

Bagaimana sih kualitas sekolah kita????

Sekolah yang berada di kota-kota besar, mungkin fasilitasnya sangat memadai untuk menunjang proses belajar-mengajar. Tapi apabila kita menengok ke daerah pelosok, apakah fasilitasnya memadai?
Dari gambar di atas, mungkin kita merasa miris sekali melihatnya. Mengapa tidak? Bagaimana peserta didik bisa belajar di tempat yang seperti itu, bangunannya yang dari kayu tidak menutupi kemungkinan bisa roboh kapanpun, apalagi saat hujan bisa menggenagi bangunan itu. Dengan keadaan seperti itu, pasti ada rasa kewaspadaan dalam benak peserta didik, sehingga mereka tidak bisa berkonsentrasi penuh dalam menerima pelajaran.

Jadi, mungkinkah tujuan pendidikan dapat dicapai di sekolah-sekolah dari daerah pelosok? Padahal tadi sudah dijelaskan bahwa sekolah merupakan faktor penting dalam membangun bangsa yang berkualitas.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Yamin, Moh. 2009. “Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan”. Jogjakarta: DIVA Press.

Selasa, 12 November 2013

PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER

Apakah pendidikan karakter itu penting?



          Pendidikan karakter sangat penting sekali dan mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi di rumah dan di lingkungan masyarakat.
         Pendidikan karakter yang mencakup perbaikan budi pekerti manusia tentulah sangat penting untuk ditanamkan sejak awal. Banyak orang yang berpendidikan tinggi namun tidak memiliki etika dan karakter yang baik.
        Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia.
         Sejak dulu kala karakter bangsa Indonesia dikenal dengan karakter hidup bergotong royong, tolong menolong, hormat-menghormati, ramah-tamah dan sopan- santun, suka bermusyawarah dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan salah satu falsafah bangsa indonesia ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Begitu pula dengan kata "yang tua dihormati, dan yang muda dihargai".
         Namun akhir-akhir ini, ada kecendrungan menurunnya nilai-nilai karakter yang dimiliki oleh sebagian kecil anak sekolah. Sering kita saksikan tingkah polah sebagian anak sekolah yang sudah di ambang batas kewajaran. Dengan pakaian seragam sekolah, mereka seenaknya keluyuran atau bolos saat jam pelajaran berlangsung. Berkata seenaknya kepada orang yang lebih tua, apalagi sesama teman sekolah. Lebih parah tentunya suka tawuran antar sesama pelajar dengan sekolah lain.

         Masalah tawuran yang melibatkan seorang pelajar ini sangat memprihatinkan sekali. Akhir-akhir ini sering kita jumpai dalam lingkungan sekitar kita, di media massa semuanya membahas masalah tawuran pelajar. Padahal mereka adalah calon generasi bangsa.

         Muncullah sebuah pertanyaan "Apakah bangsa indonesia mengalami degradasi moral yang sangat parah?

         Apakah itu sebagai indikasi kegagalan dunia pendidikan untuk membentuk karakter peserta didik? Apakah ini pertanda kelalaian orang tua dan masyarakat dalam mengontrol prilaku anak di luar lingkungan keluarga? Apakah ini juga sebagai pertanda kelalaian orang dewasa pada umumnya untuk memberi contoh dan tauladan yang baik kepada anak?

         Jika memang kita sadari demikian, maka pantaslah pendidikan karakter perlu mendapat perhatian semua pihak. Di sekolah, siswa perlu mendapat pembinaan karakter yang lebih baik.

         Implementasi pendidikan karakter di sekolah salah satunya dapat dilakukan melalui pengintegrasian dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran, dimana materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran dikembangkan, dieksplisitkan, dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Sehingga pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

         Efektifitas pendidikan karakter butuh kerjasama antara pihak sekolah dan lingkungan keluarga. Sehingga peran orang tua juga sangatlah penting. Maka orang tua tihak boleh lepas tangan. Keseharian seorang anak lebih banyak di rumah daripada di sekolah. Jadi orang tua harus benar-benar bisa mengontrol anaknya. Selain itu, orang tua perlu memberi keteladanan yang pantas ditiru oleh anak-anak mereka. Media massa seperti televisi hendaknya lebih banyak menayangkan acara yang lebih menunjang pembentukan karakter bangsa, bukan mengutamakan tayangan kekerasan dan kebebasan.
       
Sekian uaraian sekilas masalah pendidikan karakter.




DAFTAR PUSTAKA



Muin,Fachtul. 2011. Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan praktik. Yogyakarta : Arr-ruzz  Media